Novel Sejarah Keling Kumang dan Ngayau di Museum Sarawak

Museum Sarawak, Keling Kumang, Ngayau, Ipoi Datan, literasi
Menyerahkan novel sejarah Keling Kumang dan Ngayau di Museum Sarawak.

Dayak di Sarawak, Malaysia dan terutama Kalimantan Barat terkhusus suku bangsa Iban. Mereka adalah satu asal dan sama. Diakui dari Tampun Juah, wilayah Segumon, Sekayam Hulu pada waktu ini. 

Tampun Juah ini diakui sebagai "tanah semula jadi". Atau asal usul nenek moyang Dayak Kalimantan Barat (kecuali Dayak Kanayatn yang mengaku asal usulnya dari Gunung Bawang) dan Sarawak, Malaysia.

Oleh sebab itu, narasi atau buku terutama yang terkait topik sejarah suku bangsa itu, sangat relevan bagi kedua negara.
Baca Malaysia Dan Indonesia (Malindo) Dalam Perspektif Sejarah Dan Perbatasan

Museum Sarawak boleh menyimpan buku-buku bagus. Terutama yang terkait topik Dayak. Museum Sarawak bukan hanya bisa merawat khasanah pustaka dan artefak berharga, melainkan juga menyimpannya secara modern. Museum ini adalah kombinasi kemodernan dengan warna budaya lokal. Tata kelolanya boleh diacungi jempol. 

Demikian pula halnya dengan koleksi pustaka, artefak, serta tinggalan inskripsi Dayak; banyak disimpan di sana. Ingin topik apa saja, terkait Dayak; semua tersedia.

Museum Sarawak hidup. Ia tidak mati. Sebab di sana "berbicara" banyak tinggalan dan bahan pustaka. Tepatlah kata-kata sejarawan dunia, Cicero bahwa "Historia vero testis temporum" --sejarah adalah saksi zaman.

Sejak lama, Ipoi Datan, Ph.D., Kepala Museum Sarawak akrab dengan para tokoh, pegiat literasi, dan pekerja media di Indonesia. 

Ipoi sering ke Indonesia manakala ada acara yang diadakan Dayak Lundayeh. Yang diselenggarakan Ketua Persekutuan Lundayeh (PDL), Dr. Yansen Tipa Padan. Biasanya di Malinau jika ada irau (pesta budaya). Namun, kerap pula diadakan di Pulau Sapi.

Ipoi seorang intelektual. Gelar S-2 diselesaikannya di luar negeri. Sedangkan gelar Doktornya dituntaskan bukan di dalam negeri.

Ia sangat piawai dalam hal semiotika. Lun Bawang (di Malaysia dan Brunei), amat sangat ia kuasai. Semua histori, artefak, situs, kepercayaan, adat istiadat orang Lun Bawang; ia kuasai di dalam kepala. Ipoi bahkan menerbitkan hasil penelitian, salah satunya terkait topik peran buaya dalam kehidupan orang Lundayeh Idi Lun Bawang.
Baca juga Jessica Alba Perempuan Iban Di Film The Sleeping Dictionary

Hari itu, jelang santap siang. Saya diundang-datang ke Museum Sarawak. Namun, Ipoi pas ada urusan di luar kantor. Jadinya, kami berjanji tatap muka, sembari makan-malam, petang saja. Kami menyepakati suatu tempat.

Museum Sarawak boleh menyimpan buku-buku bagus. Terutama yang terkait topik Dayak. Museum Sarawak adalah kombinasi kemodernan dengan warna budaya lokal. Tata kelolanya boleh diacungi jempol. Demikian pula koleksi pustaka, artefak, serta tinggalan inskripsi Dayak; banyak disimpan di sana. 

Dari Jangkang, kampung halamanku. Kusiapkan beberapa buku karyaku. Semua topik keDAYAKan.

Novel sejarah Ngayau dan Keling Kumang. Orang Dayak, terutama Sarawak, sangat mafhum. Itu kisahan mereka juga. Nenek moyang mereka juga.

Saya diarahkan ke kawan-kawan kurasi Museum Sarawak. Saya serahkan buku-buku itu.

Semoga saja bisa jadi senyala lilin. Yang, pabila gulita, menerangi Museum Sarawak.

Sekaligus memantik kembali semangat literasi di pulau Borneo.
Baca pula ini The Ibanic Longhouse


LihatTutupKomentar
Cancel