Dalam Buaian Tomak, Nikmatnya Warkop Cina di Kalimantan Utara

Tomak, kopi, Warkop, Tanjung Selor, Cina
Dalam buaian nikmatnya menu Warkop Tomak bersama Pepih dan Hendy.


Cina. Perkenankan penulis memadankan kata “Chinese” yang dalam aslinya dilafaskan : Chung Hua –suatu negeri yang diyakini berada di tengah-tengah dunia.

Bagi yang paham Kuo Ue, atau Mandarin, maka ada bulatan hampir segi empat dibelah, itulah: huruf Chung. Sedangkan “hua” adalah bangsa, atau suku bangsa. Jika dieja seluruhnya, maka mirip dengan Tiong – hoa.

Setali tiga uang!

Tapi saya tak hendak membahas soal etimologi atau bahasa Mandarin. Saya tertarik akan judul di atas. Bukan hanya Tomak di Tanjung Selor, akan tetapi masih banyak lagi Warkop -warung kopi– berciri khas, atau yang dimiliki dan dikelola warga Chung Hua di Kalimantan Utara.

Selama berada di Tanjung Selor, ibukota provinsi Kalimantan Utara. Sungguh saya menikmati kuliner di kota tepian sungai Kayan ini. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di ibukota provinsi termuda Indonesia ini tahun 2020 bulan Juli ketika menulis biografi Nurhayati Andris saya sudah terkesan dengan Tanjung Selor.

Ketika itu saya diajak makan siang di sebuah warung. Sekilas tampak sederhana yaitu warung Alhamdulillah. Sungguh sajian yang luar biasa ikan bakar bandeng tanpa tulang.

Saya menikmatinya bukan main. Kemudian sekitar bulan Oktober 2020. Saya pun diajak ke warung sop tulang, Haji Husni, oleh Yansen TP.

Kemudian malam harinya diajak makan di Kulteka. Yakni kuliner tepi Kayan. Di sini tersaji aneka macam kuliner tetapi yang favorit yang saya suka adalah kepiting asam manis.

Akan tetapi, sungguh menakjubkan. Pada suatu pagi, diajak sarapan pagi dan minum kopi oleh sahabat pegiat literasi di Tanjung Selor, Hendy Dermawan di Warkop Tomak, Tanjung Selor.

Sungguh nikmat! Benar-benar perisa.

Bersama pegiat literasi nasional Pepih Nugraha,kami larut. Minum kopi dan makan bakpao isi ayam dan kacang hijau sungguh maknyus. *)

LihatTutupKomentar
Cancel