Timun Suri di Bulan Puasa

Timun suri, bulan puasa, kaya kalsium

 

Timun suri di mana-mana. Memang musimnya.

Timun suri. Meski di Indonesia namanya "timun", sebenarnya famili buah ini adalah melon (cucurbitaceae). 

Lama saya merenung merenung:  Apa kaitan timun suri  yang dalam Latin disebut "Cucumis melo L var reticulatus Naudin" dengan bulan puasa?

Mengapa setiap kali datangnya bulan puasa, timun suri selalu menjamur di mana-mana? Terutama di Jakarta, kota-kota besar, dan kini malah menjadi kebiasaan pula di kota lainnya.

Sebelum tiba ke kesimpulan sebenarnya ada semacam hipotesis. Akan tetapi, sebagaimana dalam penelitian, hipotesis terlebih dahulu harus diuji atau dibuktikan.

Maka di bulan puasa ini. Saya sengaja membeli timun suri itu. Lalu membawanya ke rumah. Sore jelang senja, timun suri itu coba dikupas. Dibelah-belah. Diiris.

Setelah itu, dimasukkan ke dalam mangkok yang telah ada es batunya. Dicampur sirup. Lalu "dikacau" - kata orang Malaysia.

Membeli timun suri.

Dikecap. Hm..... segerrrr. Maknyus lagi. Sekian detik berlalu. Detik menjadi menit. Menit menjadi jam.

Segar tetap terasa nyangkut di lidah dan kerongkongan. Bukan h badan, melainkan pikiran pun jadi ringan.

Ringan. Segar. Lembut. Lepas dahaga olehnya. Ternyata ini manfaat langsung dari mengkonsumsi timun suri.

Penasaran, saya coba Googling. Tanya si mbah yang serba-tahu itu apa gerangan kandungan yang menjadi keunggulan buah timun suri? Amboi! Ternyata, banyak manfaat dan kaya dengan kandungan. Tidak tahu asal mula, dari mana orang tua mendapatkan pengetahuan luar biasa. Suatu kearifan tradisional seperti ini? Menemukan bahwa timun suri pas dikonsumsi di bulan puasa. 

Ada kadar lemak, protein, fosfor, zat besi, kalium, serat, dan kandungan kalsium di dalam buah ini. Terbanyak, selain fosfor dan air,; buah timun suri mengandung kalsium sebanyak 768 miligram.

Wau! Pantasan saja timun suri bikin badan segar usai kita mengonsumsinya. Begitulah rupanya cara kerjanya! *)

LihatTutupKomentar
Cancel