Christina - Michael, Dayak dan Amerika Penulis Buku Amji Attak

Christina Lomon, Michael, Dayak, Amerika, Amji Attak

 

Christina - Michael: Dayak Indonesia dan pria Amerika yang memutus sekat.

Kini apalah arti sebuah Boundary. Sekat. Tapal batas. Zaman now hanya imajinasi. Nyatanya, manusia era digital telah melintas batas. Memintas wilayah dan benua.

Christina  dan Michael buktinya. Mereka contoh hidup. Bahwa cinta mengalahkan segalanya. Tanpa bisa dibatasi lagi oleh jarak dan waktu. 

Sungguh mustajab. Lagi luar biasa, daya-terpa (exposure) literasi. Garam di laut, asam di gunung bisa bertemu dalam kuali yang sama.

Garam itu adalah Michael, seorang warga Amerika. Sedangkan ikan adalah Christina (Kris) Lomon, saudaraku sesama Dayak Bidayuh dari Sekayam - Kab. Sanggau, Kalbar, perbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Ayahku, Sareb. Ayah Kris bernama Lomon. Dahulu, semasa ada partai Katolik, mereka separtai. Namun, sahabat dekat itu pisah karena beda perahu. Ayahku Golkar. Sedangkan ayah Kris PDI. Namun, persaudaraan mereka tak pernah putus, hanya karena berbeda aliran politik.

Bahkan, ayahku berpesan, separuh memerintah. "Kalian anak-anak. Harus seperti kami!'

Saya menafsirkan kata-kata ayah dengan caraku. Kris dahulu, di Jakarta, dikenal sebagai jurnalis-wanita tersohor. Ia pernah Pemred tabloid terhormat negeri ini, milik Mbak Tutut, Wanita Indonesia. Sedangkan aku bekerja, sebagai buruh, di sebuah perusahaan media terbesar negeri ini selama tahun. Saya datang Jakarta (1989) mengadu nasib hampiir bersamaan dengan Kris. Kami saling kontak. Jika ada acara Dayak, kami saling bertemu dan bekerja sama.

Yang membuat kami bertiga bertemu, dan sering semeja, adalah kegiatan literasi akhir-akhir ini. Kris menulis dan menerbitkan biografi seorang tokoh Dayak hebat, Amji Attak. Ia pernah menulisnya di tabloid Suara Borneo. Di buku 101 Tokoh Dayak (3), sebagian hasil risetnya, saya kutip.

Puncaknya adalah kegiatan literasi. Bersama saya, tahun 2015. Tandem saya dengan Kris menulis biografi Irjen Dinar, seorang Dayak asal Pabayo, Landak. Judul buku Kapolda Kalteng itu Dinar: Jenderal Berbela Rasa. Kami mendapat fulus lumayan dari menulis buku itu.

Kris lama hidup sendiri. Hingga tiba masanya, 3 tahun silam. Namun, tidak dinyana, lewat literasi, ia berkenalan dengan pria paruh baya Amerika. Ia seorang desainer ternama di negeri Paman Sam. Bekerja di sebuah majalah kelas Amrik. Bayangkan saja. Mereka bertemu lewat literasi.

Yang membuat kami bertiga bertemu, dan sering semeja, adalah kegiatan literasi akhir-akhir ini. Kris menulis dan menerbitkan biografi seorang tokoh Dayak hebat, Amji Attak. Ia pernah menulisnya di tabloid Suara Borneo. Di buku 101 Tokoh Dayak (3), sebagian hasil risetnya, saya kutip.

Kegiatan menulis-mendesain-menerbitkan buku itu mempertemukan kami intens bertemu dan berdisksi. Pas pula, tokoh yang menjadi objek kajian-penelitian bukunya seorang tokoh Dayak legendaris. Amji Atak namanya. Tokoh paling senior di antara pasukan Brimob yang pada ketika itu ditugaskan dalam konfrontasi Malaysia.

Namun, siapa Amji Attak?


Salah satu syarat mengajukan pahlawan nasional adalah: wajib ada monograf, publikasi hasil riset sang tokoh, yang metodologinya mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Dalam hal ini, saya wajib mendukung Kris dan Michael menerbitkan buku ini.

Kisah heroik nenek moyang suku bangsa Dayak bukan hanya ada dalam cerita epos saja. Tapi sungguh di dunia nyata. Satu di antaranya, Amji Atak.

Ia dibaiat menjadi nama ksatrian (asrama) Korp Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Siapa sebenarnya Amji Atak? Sosok dan kiprahnya dibahas tuntas keduanya, dalam buku ini.*) .

LihatTutupKomentar
Cancel