Petani Sawit Tertahan Kaya

sawit, emas hijau, nasib petani

Petani Sawit Terancam Kaya 

Pas saja judul narasi kita di atas untuk menggambarkan suasana saat ini yang dialami para petani sawit. Setelah PHP di ujung tahun 2021-awal 2022, harga komoditas emas hijau ini mereoket tajam hingga rp 4.000/tandan buah segar.

Tatkala bertolak dari kampung ke ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak beberapa hari lalu. Saya saksikan. Ada yang berubah, dan akan senantiasa berubah. Perikehidupan orang yang tinggal di pesisir dan yang tinggal di daratan.

Dan sepanjang jalan, dari Sekadau-Simpang Tanjung-Kembayan-Balai Sebut pergi pulang Pontianak, saya saksikan pemandangan unik.  Sepanjang jalan, truk dan pick up penuh muatan. Mengangkut sawit dari petani ke , dan dari ke pabrik pengolahan sawit (CPO) terdekat.

“Itu tidak kurang dari tujuh ton,” kata kawan saya menunjuk truk di depan yang penuh muatan sawit.

“Itu tiga ton!” tunjukknya pada sebuah mobil Hillux yang disulap jadi pick up.

“Jika saat ini harga sawit tingkat petani a rp 2.650, maka kalikan saja berapa?”

 Demikian pemandangan sepanjang jalan raya di Kalbar. Kita saksikan sepanjang perjalanan tiada putusnya sawit lalu lalang.

Para petani bersukacita. Ladang-ladang yang dahulu kala ditanami padi, kini terlihat pandang/ tajar ukuran 9 x 9 meter berdiri di antaranya. Lima tahun ke muka, niscaya tanaman palma yang dijuluki “emas hijau” itu akan memakmurkan pemiliknya.

Setelah Pandemi melanda, Februari 2020, tak syak lagi, sawit menyumbang devisa terbesar negara. Dampak langsungnya, petani turut menikmati.

Ke muka, sawit akan semakin berjaya. Apalagi, kini, pesawat terbang pun akan “minum” dari minyak sawit yang sudah diolah. Kabar teranyar ini, makin membuat petani sawit bergiat.

Saya berjumpa dengan banyak petani sawit yang menjadi kaya di kampung-kampung. Memang dihitung dari sisi produktivitas, masih belum ideal. Idealnya, 1 hektare sawit per tahun produksinya mencapai 25 ton. Pemeliharaan, pupuk, pruning, serta tata kelola sawit dari para petani akar-rumput masih perlu ditingkatkan lagi.

Toh demikian, tetaplah sawit untuk saat ini memberi nilai tambah yang meyakinkan. Orang kampung banyak menebang karet, menggantinya dengan sawit.

Ke depan, akan sulit bagi peusahaan memiliki lahan lagi di Kalimantan. Petani akar rumput telah sadar akan nilai setapak lahan. Mereka tidak akan sudi menyerahkannya lagi ke perusahaan, seperti dahulu.

 

LihatTutupKomentar
Cancel