Literasi di Lintas Batas Malindo (Kembayan - Sarawak)

literasi, Bumi Menulis, PLB

Teks dan gambar: Tina Lie. Kontributor BORDER NEWs

Perbatasan Mongkos - Sarawak, dahulu kala amat legendaris. Kala itu, zaman prakemerdekaa, dikenal sebagai "smokel". Istilah dipungut dari kata Belanda, smokelen, yakni: perdagangan gelap.

Kini praktik perdagangan gelap sebagaimana dahulu kala, tidak ada. Sebab jalan yang mengubungkan kedua negara, telah ada. Bahkan, ada pula pos lintas batas (PLB) resmi, di mana pengunjung kedua negara yang berkehenda baik, dengan paspor, bisa lalu lalang dengan merdeka.

Baca https://www.bordernews.id/2023/02/pos-lintas-batas-negara-plbn-entikong.html

Tidak hanya perdagangan barang yang terjadi di perbatasan. Namun juga olah-intelektual. Literasi dasar, yakni baca-tulis. Yang cukup dikenal kiprah dan eksistensinya adalah komunitas literasi "Bumi Menulis".

Kembali lagi! Bumi Menulis berkunjung ke sekolah-sekolah. Kali ini sedikit beda, biasanya saya membawa materi tentang “Menjadi Penulis Pemula” kali ini menjadi undangan di SMK Kristen Eklesia Kembayan.

Biasanya saya membawa materi dan mengajak orang lain menulis dan menerbitkan buku di Komunitas Bumi Menulis, kali ini diminta untuk memberikan motivasi ke anak-anak kelas 12 SMK Kristen Eklesia Kembayan.

Kepala sekolah SMK Kristen Eklesia menghubungi saya, beliau mengatakan berikan motivasi untuk anak-anak itu agar setelah lulus dari SMK itu mereka tidak hanya menjadi tukang ngasuh anak orang, atau penjaga tokoh pakaian. Melainkan, harus punya mimpi besar. Menggapai cita-cita yang tinggi agar tidak dicap orang lain kalau orang kampung tidak bisa maju dan berkembang.

Benar! Itulah yang diinginkan Bumi Menulis untuk anak-anak pebatasan dan pedalaman. Jangan minder hanya karena berasal dari desa. Mayoritas siswa-siswa di sini berasal dari kampung-kampung yang masih belum terjamah oleh fasilitas yang baik.

Saya mengajak siswa-siswa untuk selalu bermimpi besar dan berani untuk mewujudkannya. Walau berasal dari kampung, dan sepertinya mustahil, namun selama kita mau belajar dan membuka diri semuanya akan diberikan jalan.

“Berhenti untuk minder, dan bermimpilah setinggi-tinggi!” Begitu yang saya sampaikan kepada siswa-siswa di sana di atas panggung yang membuat saya seperti Merry Riana yang sedang memberikan motivasi.

Bersama seorang peserta.

Berasal dari pengalaman sendiri, saya memberikan apa yang saya alami dari orang yang lahir dan besar di tanah Borneo yang hampir sebagian daerahnya masih kurang fasilitas, namun saya tidak patah semangat dan terus belajar mengejar impian saya yang akhirnya saya menjadi seorang pelopor literasi di daerah, Kalimantan Barat khususnya.

Dengan beraninya bermimpi besar, nantinya banyak orang yang asli Kalimantan membangun daerahnya sendiri dan tidak menjadi daerah yang serba kekurangan dan serba tidak mampu.

Kita adalah masa depan. Dimulai dari SMK K Eklesia, kita ada bibit-bibit pembangun untuk memajukan daerah Kalimantan barat, khususnya perbatasan dan pedalaman. *)

LihatTutupKomentar
Cancel