The Malay Dilemma: Relevansinya dengan The Dayak Dilemma dalam Konfigurasi IKN

The Malay Dilemma, Dayak, The Dayak Dilemma, IKN, Mahathir Mohamad

 

Buku berkelas, yang wajib dibaca dan dipelajari.


Books are for nothing but to inspire
--demikian dikatakan intelektual terkenal berkebangsaan Amerika, Ralp Waldo Emerson. 

Kita sangat setuju dengan kata-kata yang bernas. Pun pula sarat dengan hikmat kebijaksanaan itu. Manfaat buku tiada lain kecuali: menginspirasi. Pas!

Apakah yang dimaksudkan dengan "dilemma"? Ada yang mengatakannya sebagai "buah simalakama". Dimakan, ayah mati. Tak dimakan, ibu mati. Tak ada pilihan. 

Sebenarnya, dilemma bukan demikian dangkal. Dalam khasanah logika dan filsafat, dilemma telah dikenal sejak abad 16. Untuk menunjukkan suatu bentuk argumen yang melibatkan pilihan antara alternatif yang sama-sama tidak menguntungkan. Etimologinya bahasa Latin derivasi dari bahasa Yunani dilēmma, dari di- (dua kali) dan lēmma (premis).

Untuk mudahnya. Kita sebut saja “buah simalakama” padanan dilemma dalam bahasa kita. Pas! Tak ada uang kembaliannya. Seperti dalam syair lagu “Madu dan Racun”. Dilema…

Tahun 1970. Jadi, 11 tahun sejak dibaiat jadi menteri nomor satu di Malaysia. Mahathir Mohamad menerbitkan buku kontroversial, The Malay Dilemma.

Inilah kandungan Isi buku yang "semuanya daging" itu:

1. Introduction
2. What Went Wrong?
3. The Influence of Heredity and Environment on the Malay Race
4. The Malay Economic Dilemma
5. The Meaning of Racial Equality
6. The Bases of National Unity
7. Rehabilitation of the Malays and the Malay Dilemma
8. The Malay Problem
9. Code of Ethics and Value Systems of the Malays
10. Communal Politics and Parties
11. Malaysia and Singapore

Ke-11 pokok dilemma, atau kegundahan sekaligus kegelisahan si Datuk. Situasinya bisa sangat relevan dengan situasi kondisi yang dialami Dayak pada saat ini. Lebih-lebih jelang Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara diberlakukan. Baca: https://www.bordernews.id/2023/04/ikn-dan-kecemasan-penduduk-asli_11.html

sumber: Wikimedia Commons

JIka semua “Malay” di pointer buku itu, ganti: Dayak! Misal no. 4: The Dayak Economic Dilemma. Betapa serunya membayangkan penduduk lokal, Dayak, dalam konfigurasi IKN Nusantara. Baca: https://www.bordernews.id/2023/04/ikn-dan-ancaman-deforestasi-borneo.html

Namun, kata orang cerdik cendikia. "Tantangan adalah sekaligus peluang. Ubah tantangan menjadi peluang. Turning obstacles into opportunities!" demikian yang ditegaskan oleh Stoltz dalam bukunya Adversity Quotient (1997). 

Bisakah? Tempus omnia revelat. Waktu akan membuktikan semuanya. *)
Baca https://www.bordernews.id/2023/04/bung-karno-kalimantan-terbangun-baik.html


LihatTutupKomentar
Cancel